
WHO Nyatakan Satu Wilayah Di Asia Tenggara Bebas Frambusia
WHO Nyatakan Satu Wilayah Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO pernah memberikan sertifikasi bebas frambusia kepada India pada 2016. Sertifikasi tersebut di berikan setelah tim ahli memverifikasi terhentinya penularan penyakit.
Frambusia atau yaws merupakan penyakit infeksi bakteri yang terutama menyerang kulit, tulang, dan tulang rawan. Penyakit tersebut di sebabkan Treponema pallidum subspecies pertenue. Selain itu, penularannya terjadi melalui kontak langsung antarmanusia.
India menjadi negara pertama yang memperoleh sertifikasi tersebut berdasarkan peta jalan penyakit tropis terabaikan WHO. Keberhasilan itu di capai melalui pencarian kasus aktif dan pemeriksaan serologis. Kemudian, tidak di temukan bukti penularan baru.
Selain itu, program pengobatan dan penyuluhan di lakukan secara terarah kepada masyarakat rentan. Penggunaan azitromisin juga membantu mengendalikan penyakit tersebut. Dengan demikian, strategi terpadu menjadi faktor penting dalam keberhasilan eliminasi.
WHO Nyatakan Satu Wilayah WHO kini terus memperbarui mekanisme sertifikasi eradikasi frambusia. Pada 2026, WHO membentuk proses komisi internasional untuk menilai bukti dari negara kandidat. Karena itu, status bebas frambusia harus melalui proses verifikasi resmi.
WHO Nyatakan Satu Wilayah Asia Tenggara Masih Menghadapi Tantangan Pengendalian Frambusia
WHO Nyatakan Satu Wilayah Asia Tenggara Masih Menghadapi Tantangan Pengendalian Frambusia kondisi frambusia di Asia Tenggara memiliki perkembangan yang berbeda antarnegara. Indonesia masih tercatat sebagai negara yang berupaya mengakhiri penyakit tersebut. Selain itu, WHO mencatat Indonesia pernah melaporkan kasus frambusia dalam sistem pemantauan global.
Pada 2024, WHO mencatat 16 negara masih di anggap endemik frambusia secara global. Sementara itu, 82 negara atau wilayah sebelumnya endemik masih menjalani penilaian status.
Indonesia sendiri memasukkan eliminasi frambusia dalam prioritas pembangunan kesehatan periode 2025 hingga 2029. Langkah tersebut menunjukkan komitmen pemerintah untuk mempercepat pengendalian penyakit. Kemudian, penguatan surveilans menjadi bagian penting dalam strategi tersebut.
Selain Indonesia, negara-negara kawasan perlu mempertahankan kemampuan mendeteksi kasus. Frambusia dapat menyerang anak-anak dan menyebabkan gangguan pada kulit serta tulang. Oleh sebab itu, penemuan kasus sejak dini sangat penting.
WHO juga mendorong negara untuk menjadikan frambusia sebagai penyakit yang wajib di laporkan. Dengan demikian, perubahan pola penularan dapat di pantau secara lebih cepat. Selanjutnya, sistem kesehatan dapat segera melakukan penyelidikan ketika kasus di temukan.
Eliminasi Membutuhkan Surveilans Dan Pengobatan Berkelanjutan
Eliminasi Membutuhkan Surveilans Dan Pengobatan Berkelanjutan keberhasilan India memberikan pelajaran penting bagi negara yang masih menghadapi frambusia. Program eliminasi membutuhkan pencarian kasus secara aktif dan pengobatan yang tepat. Selain itu, pemantauan harus di lakukan untuk memastikan penularan benar-benar berhenti.
WHO menyebut azitromisin sebagai antibiotik yang dapat di gunakan untuk mengobati frambusia. Bahkan, obat tersebut telah masuk dalam daftar obat esensial WHO. Karena itu, ketersediaan pengobatan menjadi salah satu komponen penting program eliminasi.
Namun, pengobatan saja tidak cukup untuk memastikan eliminasi. Sistem surveilans harus mampu menemukan kasus baru setelah intervensi di lakukan. Selanjutnya, pemeriksaan laboratorium dapat membantu memastikan status infeksi.
Pada 2026, WHO menyatakan frambusia masih endemik di 16 negara. Selain itu, organisasi tersebut sedang menilai 82 wilayah yang sebelumnya pernah mengalami penyakit tersebut. Dengan demikian, proses menuju sertifikasi bebas frambusia masih berlangsung secara global.
Karena itu, klaim mengenai wilayah baru yang bebas frambusia harus berdasarkan pengumuman resmi WHO. Verifikasi internasional di perlukan sebelum suatu negara di nyatakan bebas penularan. Langkah tersebut menjaga kredibilitas program eliminasi.
Pada akhirnya, keberhasilan India menjadi contoh penting bagi kawasan lainnya. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa intervensi terarah dapat menghentikan penularan. Namun, keberhasilan tersebut tetap membutuhkan pengawasan setelah eliminasi.
Dengan demikian, Asia Tenggara masih memiliki pekerjaan besar dalam pengendalian frambusia. Indonesia juga terus memasukkan penyakit tersebut dalam agenda eliminasi penyakit tropis terabaikan. Selanjutnya, penguatan layanan kesehatan dan surveilans menjadi kunci menuju kawasan yang benar-benar bebas frambusia WHO Nyatakan Satu Wilayah.